Hanya Aku ( Bagian 2 )
When
will I see you again
You
left with no goodbye, not a single word was said
No
final kiss to seal any seams
I
had no idea of the state we were in
Lagu Don’t you remember milik Adele
masih mengalun indah di earphone
putih kesayanganku. Aku masih seperti tadi. Masih dengan duniaku sendiri.
Tersenyum sendiri, tertawa sendiri , memikirkan sesuatu yang mungkin mustahil
untuk terjadi. Kembali kuusap punggung telapak tanganku. Rasanya masih hangat,
atau memang tubuhku yang menghangat karena kejadian tadi ? Ingatanku kembali
menerobos dinding waktu. Mengingat-ingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu.
Saat pemacu detak jantung itu mendekap tanganku. Saat jemari lembutnya mengusap
jemariku. Saat tangan kami beradu. Ah, aku ingin mengulangnya. Sekali lagi Tuhan.
Wajarkah
perasaan ini ? Bukankah kami baru pertama kali bertemu. Tapi ada apa ini. Aku
tak bisa mengendalikan detak jantungku saat di dekatnya. Haruskah aku
menanyakan namanya pada Tommy ? Bisakah aku bertemu dia lagi, sekali lagi.
Dengan pertemuan yang lebih lama dari ini.
Ah, sudahlah. Aku tak ingin memikirkan
hal-hal yang hanya akan merancau di otakku. Hanya akan menjadi semacam ranjau
mematikan jika aku terus mengingat seseorang yang bahkan tak ku kenal. Yang
bahkan tak pernah memikirkanku. Segera kurebahkan punggungku ke ranjang yang
dari tadi seakan sudah melambai-lambai padaku. Kutatap lurus langit-langit
putih di kamarku. Ingatanku kembali menjelajah, mengingat kembali wajah lelaki
itu. Indah. Mungkinkah ?
***
“Rin,
antri mandi ya.”
Aku tersentak, hampir
saja aku melempar ponselku. Untung saja ponsel ini masih mulus bersarang di
genggaman tanganku.
“Bisa pelankan
teriakanmu Na.” kataku dari dalam kamar.
“Hey, apa yang kau
lakukan, ini sudah siang. Dan kau masih berada di bawah selimut seperti ini. Oh come on, wake up girl .” ujar Nana
setelah sukses membobol pintu kamarku.
“Hehe.”
“Selalu, tampang
tanpa dosa itu yang kau tunjukkan padaku. Apa yang kau lakukan ?” Selidik Nana
penasaran.
“Kau lihat sendiri
kan.” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari layar ponselku.
“Stalking lagi ?”
“Menurutmu
?” tanyaku kemudian.
“Dasar
gadis ini. Mau sampai kapan kau seperti ini ? Yang kau lakukan hanya
mengintip.”
“Apa
? mengintip ?”
“Lalu
apa lagi ? Bukannya kau selalu melakukan pekerjaan ini ? Membuka-buka profilnya,
fotonya, atau apalah terserah kau.”
“Kau
tak bosan ?” tambah Nana.
“Bosan
? Ah, entahlah. Aku memang setiap hari membuka profilnya, tapi selalu tak bisa
menghentikan kegiatanku ini.”
“Hah,
kau terlalu melankolis.”
“Nggak
salah kan kalau sekedar membuka statusnya,”
“Iya,
nggak salah sih. Yang salah itu kalau kita mengharapkan sesuatu yang kita
sendiri gak tau sesuatu itu bakal terjadi atau nggak. Cinta ? Boleh-boleh aja.
Tapi cinta harus realistis. Harus bisa bedain yang nyata, sama yang cuma
mimpi.”
Gleek, aku menelan ludahku. Rasanya
pahit, hambar. Benar-benar tak ada rasa manis sedikitpun. Aku menahan nafasku
dalam-dalam, kuhembuskan kembali lalu kuhirup kembali. Aneh, aku seperti
menangkap udara kelelahan dalam setiap hela nafasku. Jujur aku lelah, tapi aku
tak ingin menyerah. Bukankah tidak ada
usaha yang sia-sia ?
“Aigoo, kau pandai sekali berbicara.
Kapan-kapan ajari aku cara menasehati ya.” Jawabku mengalihkan pembicaraan.
Sesak jika diteruskan.
“Ishh, lagi-lagi. Sudah sana, cepat
mandi.”
Aku
hanya mengangguk saat Nana berlalu, berjalan perlahan lalu menutup pintu.
Kembali kubetulkan posisiku, kali ini aku memilih duduk bersandar pada tembok
ruangan berukuran 5x4 meter ini. Pengap, kulipat kakiku sehingga sejajar dengan
dadaku. Kembali kutenggok layar ponselku. Wajahnya masih menghiasi layar
ponselku, aku ikut tersenyum saat melihat senyumnya dalam benda tak bernafas
bernama foto itu. Indah, dan aku suka.
“Bisakah
kau mengirimkan pesan untukku sekarang ?”
Aneh,
kurasa aku mulai gila sekarang. Kupandangi lagi foto itu. Sekali lagi, sebelum
aku beranjak dari ranjang dan segera mandi.
“Aku
mandi dulu ya, selamat pagi. Selamat melakukan aktivitasmu ..”
“pemacu
detak jantungku.”
***
“Kau suka padanya.”
“Hey , tidak, tidak ! Aku hanya
mengagumi senyumnya. Itu saja.”
“Bisakah kusebut itu sebagai rasa
suka ?”
“Terserah kau Tom, jadi ?”
“Jadi apanya ?”
“Bisakah kau membantuku Tom.
Ayolah, setidaknya tanyakan padanya. Apakah dia mengingatku ? Itu saja Tom.”
“Apa
yang akan kau beri padaku jika aku lakukan itu ?”
”Tom,
ayolah ?”
“Oke, oke. Kita lihat saja
nanti.Haha.”
Kuletakkan segera ponselku di atas
meja. Ah, aku tak benar-benar yakin Tommy mau menolongku. Kurasa dia terlalu
malas meladeniku. Ya sudah, seperti kata Tommy, kita lihat saja nanti.
Ingatanku kembali merajuk, memaksaku
untuk mengingat kembali sosok menarik bernama Samuel. Ya, Samuel. Akhirnya aku
berhasil mendapatkan namanya. Dari Tommy tentunya. Kadang, dia memang bisa
diandalkan.
Flash
back ..
“Mau apa kau nanyain soal dia ?”
“Aku
cuma ingin tau namanya.”
“Aneh.”
“Tentu
saja tidak, hanya sekedar ingin tau Tom.”
“For what ?”
“Kau
menyebalkan.” kutukku
“Kau
menyedihkan.”
“Berhenti
mencelaku !”
“Haha.
Iya iya.” Jawabnya kemudian. Tiba-tiba tangan genitnya mencolek daguku.
“Ishh, kau ini. Ya sudah, aku pergi.”
Gertakku
“Namanya
Samuel. Samuel Raihand Putra.”
Langkahku
terhenti, ketolehkan kepalaku ke arah Tommy yang berada tepat di belakangku. Senyumku
tersungging, akhirnya dia menyerah.
“Jinjja, kau baik sekali.”
“Kenapa
kau sangat ingin tau ?” tanya Tommy kemudian. Aku menangkap keseriusan dari
nada suaranya. Ah, manusia ini.
“Hanya
ingin tau.”
“Karena
?”
“Karena
hanya dia yang memberikan tangannya padaku waktu aku akan pulang kemarin.”
Jawabku sedikit berdusta.
“Hanya
itu.”
“Ya,
apa lagi ? aku hanya ingin tau namanya.” Aku
hanya ingin tau nama pemacu detak
jantungku itu Tom.
“Ku kira kau
tertarik pada wajahnya.”
“Mwo
? Apa kau bilang ? Babo ya,
pikiranmu pendek sekali.”
“Haha, dasar wanita.”
***
“Jadi sekarang apa ? kau sudah tau
namanya kan, bahkan setiap hari kau memantau status facebooknya. Dan yang kau dapati sekarang ? Apa ?” Hardik Nana.
“Ah, aku malas membahas masalah itu Na.”
jawabku berdalih.
“Kamu nggak bisa terus-terusan kayak
gini.”
“Sampai kapan Rin ?” tambah Nana.
“Entahlah.”
Entahlah, mungkin sampai aku
benar-benar telah sampai di titik terlelahku.Titik dimana harus ku akhiri semua
mimpi ini. Titik dimana aku aku harus bangun dari mimpi panjangku ini. Tapi,
entahlah. Aku tak tau, apakah aku akan benar-benar lelah. Kurasa, tidak
mungkin.
“Bolehkah aku terus bermimpi Na ?”
“Aku tak mau bangun.” Lanjutku.
Akhir penantian..
“Hih.
Bagaimana ini, ayolah otakku. Berfikirlah !”
Aku masih sibuk menggutuki otakku
sendiri kentika ponselku tiba-tiba bergetar.
“Akan kulempar ponsel ini jika yang
masuk hanya pesan dari manusia-manusia menyedihkan yang haus pulsa itu . Tak
tahu apa , aku sedang belajar.”
Segera kusentuh gambar amplop yang
melayang-layang di layar ponselku.
“Selamat
sore”
Ish,
nomor baru ! Aku benci.
Malas memang
menanggapi nomor baru. Tapi apa yang dilakukan jemariku berseberangan dengan
yang aku pikirkan. Segera ku sentuh tulisan replay. “Selamat sore. Siapa ?”
Lama. Tapi
kemudian.
“Masih
ingat waktu di rumah Tommy ?”
“Ingat untuk ? Maaf, siapa ya ?” Jantungku
kembali berdetak tak normal. Mungkinkah.
“Hem
ungu. Ingat siapa yang memakai hem ungu ?”
Aku terdiam, mencoba mengingat siapa
yang memakai hem ungu di rumah Tommy kemarin. Ah, otakku berontak. Aku
benar-benar tak mengingat, lebih tepatnya aku tak memperhatikan baju siapapun
di ruangan itu dulu.
“Tidak-tidak.
Tolong katakana kau siapa ?”
Rasa penasaran itu kian merajuk
takkala manusia pengirim pesan misterius itu tak juga membalas pesanku.
“Ah, haruskah aku mengirim ulang
pesanku untuknya.”
“Ishh,
tidak tidak. Um, mungkin hanya orang iseng.” Gumamku tak jelas.
Sementara aku menunggu balasan,
kuteruskan kembali membaca lembaran-lembaran buram yang penuh sesak dengan
tulisan-tulisan memuakkan yang mau tak mau harus kubaca dan, kuhafal. Oh Tuhan,
aku tampak sangat menyedihkan. Bagaimana tidak, di satu sisi otak kiriku
mengajakku belajar. Namun di sisi lain, otak kananku mengajaku memikirkan
pengirim pesan misterius tadi.
“Aigoo,
apa yang harus aku lakukan.” Kembali ku acak-acak rambut panjangku yang kurasa
sudah cukup berantakan. Aku seperti orang gila. Ya, gila. Bagaimana tidak !
sudah kuhabiskan waktu 3 jam duduk di kursi belajarku untuk mempelajari
pelajaran ini, Oh tidak tidak, lebih tepatnya menunggu balasan. Bukan belajar.
Kulirik lagi ponselku, layarnya masih padam, berarti belum ada balasan. Atau
memang tak akan ada balasan.
Aku mulai bosan, kujejakkan kakiku
yang segera menyentuh lantai kamar kosku.
“Ya ! Aku akan mandi. Dan siapapun
kau manusia menyebalkan. Dengar, aku tak akan menunggu pesan darimu lagi. Lihat
saja.” Kutukku tepat di depan ponsel yang masih tenang bersemayam di meja
belajarku. Tetap tak bergeming. Sial.
Dreett..dreett
Ponselku bergetar, ada pesan. Dan
dengan sigap segera kugapai layarnya.
“Salam
kenal, namaku Samuel.”
Bolehkah aku
pingsan sekarang ? Ah, aku tak sanggup berdiri. Inikah keajaiban ? Inikah
jawaban dari penantianku ? Aku meledak. Tanpa sadar kuhentak-hentakkan kakiku.
Meloncat-loncat. Seperti anak kecil.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar