Sabtu, 01 Februari 2014

Hanya Aku ( Bagian 2 )



           Hanya Aku ( Bagian 2 )

 When will I see you again
You left with no goodbye, not a single word was said
No final kiss to seal any seams
I had no idea of the state we were in
Lagu Don’t you remember milik Adele masih mengalun indah di earphone putih kesayanganku. Aku masih seperti tadi. Masih dengan duniaku sendiri. Tersenyum sendiri, tertawa sendiri , memikirkan sesuatu yang mungkin mustahil untuk terjadi. Kembali kuusap punggung telapak tanganku. Rasanya masih hangat, atau memang tubuhku yang menghangat karena kejadian tadi ? Ingatanku kembali menerobos dinding waktu. Mengingat-ingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu. Saat pemacu detak jantung itu mendekap tanganku. Saat jemari lembutnya mengusap jemariku. Saat tangan kami beradu. Ah, aku ingin mengulangnya. Sekali lagi Tuhan.
            Wajarkah perasaan ini ? Bukankah kami baru pertama kali bertemu. Tapi ada apa ini. Aku tak bisa mengendalikan detak jantungku saat di dekatnya. Haruskah aku menanyakan namanya pada Tommy ? Bisakah aku bertemu dia lagi, sekali lagi. Dengan pertemuan yang lebih lama dari ini.
Ah, sudahlah. Aku tak ingin memikirkan hal-hal yang hanya akan merancau di otakku. Hanya akan menjadi semacam ranjau mematikan jika aku terus mengingat seseorang yang bahkan tak ku kenal. Yang bahkan tak pernah memikirkanku. Segera kurebahkan punggungku ke ranjang yang dari tadi seakan sudah melambai-lambai padaku. Kutatap lurus langit-langit putih di kamarku. Ingatanku kembali menjelajah, mengingat kembali wajah lelaki itu. Indah. Mungkinkah ?
***
“Rin, antri mandi ya.”
Aku tersentak, hampir saja aku melempar ponselku. Untung saja ponsel ini masih mulus bersarang di genggaman tanganku.
“Bisa pelankan teriakanmu Na.” kataku dari dalam kamar.
“Hey, apa yang kau lakukan, ini sudah siang. Dan kau masih berada di bawah selimut seperti ini. Oh come on, wake up girl .” ujar Nana setelah sukses membobol pintu kamarku.
“Hehe.”
“Selalu, tampang tanpa dosa itu yang kau tunjukkan padaku. Apa yang kau lakukan ?” Selidik Nana penasaran.
“Kau lihat sendiri kan.” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari layar ponselku.
“Stalking lagi ?”
            “Menurutmu ?” tanyaku kemudian.
            “Dasar gadis ini. Mau sampai kapan kau seperti ini ? Yang kau lakukan hanya mengintip.”
            “Apa ? mengintip ?”
            “Lalu apa lagi ? Bukannya kau selalu melakukan pekerjaan ini ? Membuka-buka profilnya, fotonya, atau apalah terserah kau.”
            “Kau tak bosan ?” tambah Nana.
            “Bosan ? Ah, entahlah. Aku memang setiap hari membuka profilnya, tapi selalu tak bisa menghentikan kegiatanku ini.”
            “Hah, kau terlalu melankolis.”
            “Nggak salah kan kalau sekedar membuka statusnya,”
            “Iya, nggak salah sih. Yang salah itu kalau kita mengharapkan sesuatu yang kita sendiri gak tau sesuatu itu bakal terjadi atau nggak. Cinta ? Boleh-boleh aja. Tapi cinta harus realistis. Harus bisa bedain yang nyata, sama yang cuma mimpi.”
            Gleek, aku menelan ludahku. Rasanya pahit, hambar. Benar-benar tak ada rasa manis sedikitpun. Aku menahan nafasku dalam-dalam, kuhembuskan kembali lalu kuhirup kembali. Aneh, aku seperti menangkap udara kelelahan dalam setiap hela nafasku. Jujur aku lelah, tapi aku tak ingin menyerah. Bukankah tidak ada usaha yang sia-sia ?
            “Aigoo, kau pandai sekali berbicara. Kapan-kapan ajari aku cara menasehati ya.” Jawabku mengalihkan pembicaraan. Sesak jika diteruskan.
            “Ishh, lagi-lagi. Sudah sana, cepat mandi.”
            Aku hanya mengangguk saat Nana berlalu, berjalan perlahan lalu menutup pintu. Kembali kubetulkan posisiku, kali ini aku memilih duduk bersandar pada tembok ruangan berukuran 5x4 meter ini. Pengap, kulipat kakiku sehingga sejajar dengan dadaku. Kembali kutenggok layar ponselku. Wajahnya masih menghiasi layar ponselku, aku ikut tersenyum saat melihat senyumnya dalam benda tak bernafas bernama foto itu. Indah, dan aku suka.
            “Bisakah kau mengirimkan pesan untukku sekarang ?”
            Aneh, kurasa aku mulai gila sekarang. Kupandangi lagi foto itu. Sekali lagi, sebelum aku beranjak dari ranjang dan segera mandi.
            “Aku mandi dulu ya, selamat pagi. Selamat melakukan aktivitasmu ..”
            “pemacu detak jantungku.”
***
            “Kau suka padanya.”
            “Hey , tidak, tidak ! Aku hanya mengagumi senyumnya. Itu saja.”
            “Bisakah kusebut itu sebagai rasa suka ?”
            “Terserah kau Tom, jadi ?”
            “Jadi apanya ?”
“Bisakah kau membantuku Tom. Ayolah, setidaknya tanyakan padanya. Apakah dia mengingatku ? Itu saja Tom.”
“Apa yang akan kau beri padaku jika aku lakukan itu ?”
”Tom, ayolah ?”                        
            “Oke, oke. Kita lihat saja nanti.Haha.”

            Kuletakkan segera ponselku di atas meja. Ah, aku tak benar-benar yakin Tommy mau menolongku. Kurasa dia terlalu malas meladeniku. Ya sudah, seperti kata Tommy, kita lihat saja nanti.
Ingatanku kembali merajuk, memaksaku untuk mengingat kembali sosok menarik bernama Samuel. Ya, Samuel. Akhirnya aku berhasil mendapatkan namanya. Dari Tommy tentunya. Kadang, dia memang bisa diandalkan.
Flash back ..
            “Mau apa kau nanyain soal dia ?”
            “Aku cuma ingin tau namanya.”
            “Aneh.”
            “Tentu saja tidak, hanya sekedar ingin tau Tom.”
            “For what ?”
            “Kau menyebalkan.” kutukku
            “Kau menyedihkan.”
            “Berhenti mencelaku !”
            “Haha. Iya iya.” Jawabnya kemudian. Tiba-tiba tangan genitnya mencolek daguku.
            “Ishh, kau ini. Ya sudah, aku pergi.” Gertakku
            “Namanya Samuel. Samuel Raihand Putra.”
            Langkahku terhenti, ketolehkan kepalaku ke arah Tommy yang berada tepat di belakangku. Senyumku tersungging, akhirnya dia menyerah.
            “Jinjja, kau baik sekali.”
            “Kenapa kau sangat ingin tau ?” tanya Tommy kemudian. Aku menangkap keseriusan dari nada suaranya. Ah, manusia ini.
            “Hanya ingin tau.”
            “Karena ?”
            “Karena hanya dia yang memberikan tangannya padaku waktu aku akan pulang kemarin.” Jawabku sedikit berdusta.
            “Hanya itu.”
            “Ya, apa lagi ? aku hanya ingin tau namanya.” Aku hanya ingin  tau nama pemacu detak jantungku itu Tom.
            “Ku kira kau tertarik pada wajahnya.”
            “Mwo ? Apa kau bilang ? Babo ya, pikiranmu pendek sekali.”
            “Haha, dasar wanita.”
***
            “Jadi sekarang apa ? kau sudah tau namanya kan, bahkan setiap hari kau memantau status facebooknya. Dan yang kau dapati sekarang ? Apa ?” Hardik Nana.
            “Ah, aku malas membahas masalah itu Na.” jawabku berdalih.
            “Kamu nggak bisa terus-terusan kayak gini.”
            “Sampai kapan Rin ?” tambah Nana.
            “Entahlah.”
Entahlah, mungkin sampai aku benar-benar telah sampai di titik terlelahku.Titik dimana harus ku akhiri semua mimpi ini. Titik dimana aku aku harus bangun dari mimpi panjangku ini. Tapi, entahlah. Aku tak tau, apakah aku akan benar-benar lelah. Kurasa, tidak mungkin.
“Bolehkah aku terus bermimpi Na ?”
            “Aku tak mau bangun.” Lanjutku.
Akhir penantian..
            “Hih. Bagaimana ini, ayolah otakku. Berfikirlah !”
            Aku masih sibuk menggutuki otakku sendiri kentika ponselku tiba-tiba bergetar.
            “Akan kulempar ponsel ini jika yang masuk hanya pesan dari manusia-manusia menyedihkan yang haus pulsa itu . Tak tahu apa , aku sedang belajar.”
            Segera kusentuh gambar amplop yang melayang-layang di layar ponselku.
            “Selamat sore”
            Ish, nomor baru ! Aku benci.
            Malas memang menanggapi nomor baru. Tapi apa yang dilakukan jemariku berseberangan dengan yang aku pikirkan. Segera ku sentuh tulisan replay. “Selamat sore. Siapa ?”
            Lama. Tapi kemudian.
            “Masih ingat waktu di rumah Tommy ?”
            “Ingat untuk ? Maaf, siapa ya ?” Jantungku kembali berdetak tak normal. Mungkinkah.
            “Hem ungu. Ingat siapa yang memakai hem ungu ?”
            Aku terdiam, mencoba mengingat siapa yang memakai hem ungu di rumah Tommy kemarin. Ah, otakku berontak. Aku benar-benar tak mengingat, lebih tepatnya aku tak memperhatikan baju siapapun di ruangan itu dulu.
            “Tidak-tidak. Tolong katakana kau siapa ?”
            Rasa penasaran itu kian merajuk takkala manusia pengirim pesan misterius itu tak juga membalas pesanku.
            “Ah, haruskah aku mengirim ulang pesanku untuknya.”
            “Ishh, tidak tidak. Um, mungkin hanya orang iseng.” Gumamku tak jelas.
            Sementara aku menunggu balasan, kuteruskan kembali membaca lembaran-lembaran buram yang penuh sesak dengan tulisan-tulisan memuakkan yang mau tak mau harus kubaca dan, kuhafal. Oh Tuhan, aku tampak sangat menyedihkan. Bagaimana tidak, di satu sisi otak kiriku mengajakku belajar. Namun di sisi lain, otak kananku mengajaku memikirkan pengirim pesan misterius tadi. 
            “Aigoo, apa yang harus aku lakukan.” Kembali ku acak-acak rambut panjangku yang kurasa sudah cukup berantakan. Aku seperti orang gila. Ya, gila. Bagaimana tidak ! sudah kuhabiskan waktu 3 jam duduk di kursi belajarku untuk mempelajari pelajaran ini, Oh tidak tidak, lebih tepatnya menunggu balasan. Bukan belajar. Kulirik lagi ponselku, layarnya masih padam, berarti belum ada balasan. Atau memang tak akan ada balasan.
            Aku mulai bosan, kujejakkan kakiku yang segera menyentuh lantai kamar kosku.
            “Ya ! Aku akan mandi. Dan siapapun kau manusia menyebalkan. Dengar, aku tak akan menunggu pesan darimu lagi. Lihat saja.” Kutukku tepat di depan ponsel yang masih tenang bersemayam di meja belajarku. Tetap tak bergeming. Sial.
            Dreett..dreett
            Ponselku bergetar, ada pesan. Dan dengan sigap segera kugapai layarnya.
            “Salam kenal, namaku Samuel.”
            Bolehkah aku pingsan sekarang ? Ah, aku tak sanggup berdiri. Inikah keajaiban ? Inikah jawaban dari penantianku ? Aku meledak. Tanpa sadar kuhentak-hentakkan kakiku. Meloncat-loncat. Seperti anak kecil.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar