Hanya Aku ( Bagian 1 )
Hey kau pemacu detak
jantungku,
tetaplah disitu, jangan bergerak.
Tunggu aku
***
Sialnya !!!
Nyawaku belum
sepenuhnya terkumpul kala itu ketika sebuah pesan, masuk dalam ponselku.
Sungguh ini bukan waktu yang tepat.
Dengan
mata masih terpejam, aku mencoba menggapai seantero ranjangku. Mencari sesuatu
yang telah sukses membangunkanku dari mimpi indahku.
"Ketemu."
Aku
segera membukanya.
“Pukul 10 kau sudah harus sampai !”
Apa-apaan ini, pukul
10 aku harus kemana ? Aku mencoba mengingat-ingat apakah hari ini aku ada janji
dengan seseorang. Dan, ya ampun aku hampir saja meloncat dari ranjangku ketika
aku benar-benar sadar aku telah berjanji pada seseorang. Aku semakin kacau
ketika kedua bola mataku bertemu dengan sebuah benda bulat yang menempel di
dinding kamarku.
"Tuhan,
09.30 !"
Aku
segera berlari menuju kamar mandi, dan seharusnya aku dapat dengan cepat
menjangkaunya jika saja aku tidak menabrak temanku yang tiba-tiba saja muncul
dari balik pintu kamar. So bad.
"Hey,
bisakah kau lebih hati-hati."
Aku tak
benar-benar memperhatikannya waktu itu. Ku alihkan pandanganku pada benda bulat
yang tadi sempat mengagetkanku. Aku tersentak kembali saat ku tahu jarum-jarum
pada benda itu bergerak tak selambat seperti bisaanya.
"Aku
bisa mati di bunuhnya . Sudah tidak ada waktu lagi."
Segera
kubetulkan posisiku dan kembali meluncur menuju kamar mandi.
"I'll
be quickly. Tunggu sebentar La." teriakku dari dalam kamar mandi.
15 minutes later
"Akhirnya
selesai." ujarku lega.
"Kau
tau, aku terjatuh karenamu." Lala mendengus pelan.
"Haha.
Sorry la, tadi aku kesiangan. Kita berangkat sekarang ya."
"Sekarang
? Aku bahkan baru sampai Rin."
"Aku
akan di telannya mentah-mentah kalau aku sampai telat." keluhku lagi
"Okelah,
kita berangkat sekarang."
***
Tommy's birthday
"Aku gak berani
masuk Rin." Lala bergumam tiba-tiba.
"Dia
bahkan gak terlalu mengenal aku, mungkin belum tau aku malah." tambahnya
lagi sebelum aku sempat memotong pembicaraannya.
"Hey,
kau temanku La."
"Ya,
aku temanmu. Tapi aku bukan temannya."
"Dia
bilang aku boleh membawa siapapun." ujarku.
"Tapi
aku malu."
"Me
too. Di sana aku juga gak kenal siapa-siapa La. Please, temenin aku
lah ?"
"Tapi..."
"Aku
janji cuma sebentar. Sampai aku bilang semua ke dia. I promise."
potongku.
Lala tak
bersuara, namun anggukkan kepalanya membuat aku yakin untuk membawanya masuk ke
dalam rumah Tommy.
Aku
sempat ragu saat bola mataku mendapati halaman rumah Tommy penuh sesak dengan
sepeda motor. Dan aku berani bertaruh, di dalam sudah ramai. Aku benar-benar
merasakan apa yang di rasakan Lala. Aku malu. Sejenak aku mulai ragu. Haruskah
ku teruskan langkahku ? atau aku harus berbalik dan meninggalkan tempat ini ?
Aku baru saja ingin berbalik ketika Tommy tiba-tiba meneriakkan namaku dengan
cukup lantang.
"Jangan
coba-coba lari Arindra Setinani Putri." teriak Tommy dengan posisi yang
membuatku muak. Kedua tangannya ia lipat dengan angkuh di depan dadanya. Benar-benar
menyebalkan. Dia pikir dia siapa ?
"Aku
tidak lari Tommy Indra Fareza." jawabku kemudian.
"Cepat
masuk, kalau tidak kau akan menyesal. Haha"
Dengan
langkah malas aku mengikuti Tommy yang sudah lebih dulu meninggalkanku. Kalau
sudah berhadapan dengan Tommy aku bisa apa ?
Kedatanganku
di sambut hangat oleh ayah Tommy ketika kedua kakiku berhasil mendarat dengan
mulus tepat di depan pintu masuk rumah Tommy. Selangkah, dua langkah dan
akhirnya aku masuk. Darahku langsung naik ke ubun-ubun ketika aku tau apa yang
ada di hadapanku sekarang. Wajahku memerah, kurasa. Aku melirik ke arah Lala.
Dia tak jauh berbeda denganku, kami sangat malu. Bagaimana tidak, puluhan
pasang mata langsung mentap kami dari awal kami masuk. Dan yang lebih
mengagetkanku adalah, puluhan pasang mata yang menatap kami adalah mata-mata
adam. Tak ada satupun mata hawa disitu. Tommy benar-benar sudah gila.
****
Everything start
from..
“Sudahlah, anggap saja rumah sendiri .” ujar Tommy
tiba-tiba sesaat setelah aku masuk ke rumahnya.
“Kau pikir ini lucu Tom !” jawabku segera sebelum
akhirnya Tommy melangkahkan kakinya menjauh dariku dan bergabung dengan
teman-temannya. Ah, aku benar-benar mati kutu sekarang.
“He Tom, kau bawa siapa itu ? pacarmukah ? haha.”
“Boleh kuminta satu Tom. Haha.”
“Gila kau Tom, kenapa hanya 2 yang kau bawa. Haha.”
Sial, sayup-sayup kudengar teman-temannya membicarakan
aku dan Lala. Suara sahut menyahut itu seakan mulai memekakan kedua gendang
telingaku. Bising.
“Kapan Rin ?” tanya lala tiba-tiba.
Ah, aku hampir lupa aku membawa Lala kemari. “Tunggulah
La, aku tak berani mendekatinya.”
Seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan, Lala
mengangguk perlahan. Kembali menatapku lagi dan kemudian mengajakku duduk.
Setelah itu, keberanikan diri melempar pandangan ke sudut-sudut megah rumah
Tommy. Rumah ini luas, tapi hanya ditinggali oleh Tommy dan ayahnya. Aku masih
heran, kenapa hanya aku dan Lala perempuan yang ada disini. Tidakkah dia
mengundang teman-teman perempuannya yang lain ? Tapi kenapa harus aku ? Otakku masih terlalu sibuk berpikir keras
saat tiba-tiba pandanganku jatuh di salah satu sudut rumah Tommy, tepat berada
di depanku. Perlahan, kubidik pandanganku lebih tajam pada sosok yang sempat
menarik perhatianku itu. Dari tempatku disini, aku dapat menlihat dengan jelas
gerak gerik tubuhnya.
Diantara sekian banyak
teman-temannya yang tengah tertawa lepas, sosok itu memilih untuk sedikit
menarik keatas kedua ujung bibirnya. Senyumnya. Ya senyumnya, aku menyukai
senyumnya.
Tidak, tidak. Apa yang aku
pikirkan ? Aku bahkan baru pertama kali ini melihatnya.Ah, aku benar-benar gila
sekarang. Aku masih sibuk mengutuki
diriku dengan menggeleng-gelangkan kepalaku dengan cukup keras saat tiba-tiba
kurasakan lengan Lala menyentuh pundakku.
“Ada yang memperhatikannmu.”
“Apa ? Eh, siapa ?”
segera saja mataku menelusur seiisi ruangan itu.
“Kau bercanda, tak ada
yang memperhatikan aku La.” Tambahku kemudian.
“Itu.” Kuamati Lala,
sorot matanya menuju ke suatu sudut. Aku mencoba mengikuti sorot itu. Entah
benar atau salah, tapi kurasa sorot mata Lala berhenti tepat pada sosok pemilik
senyum simpul yang tadi menarik perhatiannku.
Aku
mengerjap kaget, apa tadi dia melihatku sedang memperhatikannya ?
Kembali
ku beranikan diri melempar pandanganku pada sosok itu. Kuamati lebih detil
setiap lekuk tubuhnya. Perawakannya kurus tinggi, kulit wajahnya putih bersih
dan ya Tuhan, aku paling menyukai bagian ini, aku menyukai caranya tersenyum.
Aku sangat menikmati setiap detik proses itu. Entahlah, hanya perasaan suka sesaat
atau lebih. Yang kurasa sekarang, jantungku hampir melonjak keluar ketika sosok
itu merekahkan senyum manisnya. Ah, aku tak bisa mengontrol detak jantungku
kali ini. Sial.
Love at the first sign.
Tommy masih sibuk dengan
tamu-tamunya ketika aku masih asik dengan duniaku sendiri. Aku benar-benar bisa
gila di tempat ini. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan laju darahku, ini
menakutkan. Aku bahkan tak ingin mengalihkan sedetikpun pandanganku dari sosok
itu. Tiba-tiba ia menatapku. Sejurus kemudian pandangan kami beradu.
Oh Tuhan, matanya. Sekali lagi aku
tak bisa mengontrol detak jantungku. Detak ini tak seperti biasanya, lebih
kencang. Membuat aku sesak.
“Rin, Tommy kesini.” Tiba-tiba suara
Lala kembali melemparku ke dunia nyata. Ah, jangan sekarang. Aku masih ingin
menikmati mata itu lagi.
“Sebentar La.”
“Masih nunggu apa ?”
Pertanyaan terakhir Lala seakan
menyadarkanku. Bukannya dari awal tadi aku tak ingin ke tempat ini ? Bukannya
dari awal tadi aku sudah mengatakan pada Lala akan segera pulang setelah
mengucapkan selamat ulang tahun pada Tommy ? Tapi kenapa sekarang aku seperti
tak ingin beranjak dari tempat ini ? Ada apa ini ? Apa ini yang di sebut rasa ?
Bukankah cinta juga termasuk rasa ? Tapi bukankah sebelumnya aku tak pernah
percaya akan cinta pada pandangan pertama ? Entahlah, aku masih ingin disini.
Masih ingin melihat senyumnya. Masih ingin menikmati matanya. Pemacu detang
jantungku.
“Kau betah ?” tanya Tommy yang
tiba-tiba sudah berada di depanku. Menghalangi pandanganku. Ini menyedihkan.
“Ya, kurasa. Sedikit.” Jawabku ragu.
Aku segera menatap Lala, dan benar
dugaanku. Dua bola mata Lala sudah hampir melonjak keluar ketika aku selesai
mengatakan hal itu.
“Baiklah, kutinggal lagi. Makanannya
ada di meja depan. Have a nice day Rin.”
Aku bisu, tak bisa mengatakan apapun
pada Tommy. Aku tau semakin lama aku disini, ada sosok yang semakin gusar
karenanya. Tapi entah apapun itu, aku masih tetap ingin disini. Menikmati
pemandangan ini. Aku benar-benar masih ingin disini.
“Oh ya, ajak juga temanmu bicara.
Haha.” Gelak Tommy kemudian.
“Tom, tunggu.” Aku mengejar sosok
Tommy yang sudah melangkahkan kakinya beberapa jengkal di depanku.
“Selamat ulang tahun ya. Terima
kasih sudah di undang kemari.” Kataku setelah Tommy menoleh.
“Iya.” Jawabnya singkat.
Aku kembali ke posisiku semula. Ada
sesuatu yang ingin aku katakan pada Tommy. Bisakah aku tinggal lebih lama di
sini Tom ? Sampai acara ini selesai. Setidaknya sampai pemacu detak jantung itu
pergi. Tapi kata-kata itu tak pernah terucap sampai akhirnya kami harus
pulang.
“Dan akhirnya kita menunggu disini
sampai acaranya selesai kan.”
“Haha, maaf lah. Tapi bukankah ini
sudah selesai J
.”
“Hah, kau ini. Selalu saja.” Cibir
Lala.
Kalau saja kau tau, sebagian
hatiku tertinggal disini La.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00.
Ah, aku sudah 3 jam lebih disini. Sekarang aku dan Lala harus pulang.
Mengakhiri semua mimpi yang sudah dengan susah payah kurajut selama 3 jam ini.
Tanpa kesan.
“Tom, aku pulang ya, sekali lagi
makasih ya.”
“Nggak ikut main sama anak-anak dulu
Rin,”
“Ah, nggak usah.” Aku ingin, aku
masih ingin melihat senyumnya. Bisakah aku menarik lagi kata-kataku tadi Tom,
bisakah aku ikut dengan mereka. Bisakah ?
“Baiklah, hati-hati di
jalan. Sampaikan salamku pada ayah dan ibumu dirumah.”
“Course.” Jawabku sambil
berlalu.
Berat kulangkahkan kakiku
meninggalkan rumah Tommy, kembali kutolehkan kepalaku kebelakang. Kupandangangi
lagi sosok itu, dia masih sama seperti tadi. Dengan senyum indahnya. Masih
kupandangi lagi sosok itu sampai akhirnya aku sadar pandangan kami kembali
bertemu. Dan entah angin apa yang membawanya berjalan perlahan menuju ke
arahku. Ah, benarkah ? Ke arahku ? Apa aku sudah gila ?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar