Jumat, 31 Januari 2014

Hanya aku ( Bagian 1 )



       Hanya Aku ( Bagian 1 )

     Hey kau pemacu detak jantungku,
            tetaplah disitu, jangan bergerak. Tunggu aku
                                    ***
Sialnya !!!
            Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul kala itu ketika sebuah pesan, masuk dalam ponselku. Sungguh ini bukan waktu yang tepat.
            Dengan mata masih terpejam, aku mencoba menggapai seantero ranjangku. Mencari sesuatu yang telah sukses membangunkanku dari mimpi indahku.
            "Ketemu."
            Aku segera membukanya.
            “Pukul 10 kau sudah harus sampai !”
           
            Apa-apaan ini, pukul 10 aku harus kemana ? Aku mencoba mengingat-ingat apakah hari ini aku ada janji dengan seseorang. Dan, ya ampun aku hampir saja meloncat dari ranjangku ketika aku benar-benar sadar aku telah berjanji pada seseorang. Aku semakin kacau ketika kedua bola mataku bertemu dengan sebuah benda bulat yang menempel di dinding kamarku.
            "Tuhan, 09.30 !"
            Aku segera berlari menuju kamar mandi, dan seharusnya aku dapat dengan cepat menjangkaunya jika saja aku tidak menabrak temanku yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar. So bad.
            "Hey, bisakah kau lebih hati-hati."
            Aku tak benar-benar memperhatikannya waktu itu. Ku alihkan pandanganku pada benda bulat yang tadi sempat mengagetkanku. Aku tersentak kembali saat ku tahu jarum-jarum pada benda itu bergerak tak selambat seperti bisaanya.
            "Aku bisa mati di bunuhnya . Sudah tidak ada waktu lagi."
            Segera kubetulkan posisiku dan kembali meluncur menuju kamar mandi.
            "I'll be quickly. Tunggu sebentar La." teriakku dari dalam kamar mandi.
15 minutes later
            "Akhirnya selesai." ujarku lega.
            "Kau tau, aku terjatuh karenamu." Lala mendengus pelan.
            "Haha. Sorry la, tadi aku kesiangan. Kita berangkat sekarang ya."
            "Sekarang ? Aku bahkan baru sampai Rin."
            "Aku akan di telannya mentah-mentah kalau aku sampai telat." keluhku lagi
            "Okelah, kita berangkat sekarang."
***
Tommy's birthday
            "Aku gak berani masuk Rin." Lala bergumam tiba-tiba.
            "Dia bahkan gak terlalu mengenal aku, mungkin belum tau aku malah." tambahnya lagi sebelum aku sempat memotong pembicaraannya.
            "Hey, kau temanku La."
            "Ya, aku temanmu. Tapi aku bukan temannya."
            "Dia bilang aku boleh membawa siapapun." ujarku.
            "Tapi aku malu."
            "Me too. Di sana aku juga gak kenal siapa-siapa La. Please, temenin aku lah ?"
            "Tapi..."
            "Aku janji cuma sebentar. Sampai aku bilang semua ke dia. I promise." potongku.
            Lala tak bersuara, namun anggukkan kepalanya membuat aku yakin untuk membawanya masuk ke dalam rumah Tommy.
            Aku sempat ragu saat bola mataku mendapati halaman rumah Tommy penuh sesak dengan sepeda motor. Dan aku berani bertaruh, di dalam sudah ramai. Aku benar-benar merasakan apa yang di rasakan Lala. Aku malu. Sejenak aku mulai ragu. Haruskah ku teruskan langkahku ? atau aku harus berbalik dan meninggalkan tempat ini ? Aku baru saja ingin berbalik ketika Tommy tiba-tiba meneriakkan namaku dengan cukup lantang.
            "Jangan coba-coba lari Arindra Setinani Putri." teriak Tommy dengan posisi yang membuatku muak. Kedua tangannya ia lipat dengan angkuh di depan dadanya. Benar-benar menyebalkan. Dia pikir dia siapa ?
            "Aku tidak lari Tommy Indra Fareza." jawabku kemudian.
            "Cepat masuk, kalau tidak kau akan menyesal. Haha"
            Dengan langkah malas aku mengikuti Tommy yang sudah lebih dulu meninggalkanku. Kalau sudah berhadapan dengan Tommy aku bisa apa ?
            Kedatanganku di sambut hangat oleh ayah Tommy ketika kedua kakiku berhasil mendarat dengan mulus tepat di depan pintu masuk rumah Tommy. Selangkah, dua langkah dan akhirnya aku masuk. Darahku langsung naik ke ubun-ubun ketika aku tau apa yang ada di hadapanku sekarang. Wajahku memerah, kurasa. Aku melirik ke arah Lala. Dia tak jauh berbeda denganku, kami sangat malu. Bagaimana tidak, puluhan pasang mata langsung mentap kami dari awal kami masuk. Dan yang lebih mengagetkanku adalah, puluhan pasang mata yang menatap kami adalah mata-mata adam. Tak ada satupun mata hawa disitu. Tommy benar-benar sudah gila.
****
Everything start from..
            “Sudahlah, anggap saja rumah sendiri .” ujar Tommy tiba-tiba sesaat setelah aku masuk ke rumahnya.
            “Kau pikir ini lucu Tom !” jawabku segera sebelum akhirnya Tommy melangkahkan kakinya menjauh dariku dan bergabung dengan teman-temannya. Ah, aku benar-benar mati kutu sekarang.
            “He Tom, kau bawa siapa itu ? pacarmukah ? haha.”
            “Boleh kuminta satu Tom. Haha.”
            “Gila kau Tom, kenapa hanya 2 yang kau bawa. Haha.”
            Sial, sayup-sayup kudengar teman-temannya membicarakan aku dan Lala. Suara sahut menyahut itu seakan mulai memekakan kedua gendang telingaku. Bising.
            “Kapan Rin ?” tanya lala tiba-tiba.
            Ah, aku hampir lupa aku membawa Lala kemari. “Tunggulah La, aku tak berani mendekatinya.”
            Seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan, Lala mengangguk perlahan. Kembali menatapku lagi dan kemudian mengajakku duduk. Setelah itu, keberanikan diri melempar pandangan ke sudut-sudut megah rumah Tommy. Rumah ini luas, tapi hanya ditinggali oleh Tommy dan ayahnya. Aku masih heran, kenapa hanya aku dan Lala perempuan yang ada disini. Tidakkah dia mengundang teman-teman perempuannya yang lain ? Tapi kenapa harus aku  ? Otakku masih terlalu sibuk berpikir keras saat tiba-tiba pandanganku jatuh di salah satu sudut rumah Tommy, tepat berada di depanku. Perlahan, kubidik pandanganku lebih tajam pada sosok yang sempat menarik perhatianku itu. Dari tempatku disini, aku dapat menlihat dengan jelas gerak gerik tubuhnya.
Diantara sekian banyak teman-temannya yang tengah tertawa lepas, sosok itu memilih untuk sedikit menarik keatas kedua ujung bibirnya. Senyumnya. Ya senyumnya, aku menyukai senyumnya.
Tidak, tidak. Apa yang aku pikirkan ? Aku bahkan baru pertama kali ini melihatnya.Ah, aku benar-benar gila sekarang. Aku masih sibuk mengutuki diriku dengan menggeleng-gelangkan kepalaku dengan cukup keras saat tiba-tiba kurasakan lengan Lala menyentuh pundakku.
“Ada yang memperhatikannmu.”
“Apa ? Eh, siapa ?” segera saja mataku menelusur seiisi ruangan itu.
“Kau bercanda, tak ada yang memperhatikan aku La.” Tambahku kemudian.
“Itu.” Kuamati Lala, sorot matanya menuju ke suatu sudut. Aku mencoba mengikuti sorot itu. Entah benar atau salah, tapi kurasa sorot mata Lala berhenti tepat pada sosok pemilik senyum simpul yang tadi menarik perhatiannku.
Aku mengerjap kaget, apa tadi dia melihatku sedang memperhatikannya ?
Kembali ku beranikan diri melempar pandanganku pada sosok itu. Kuamati lebih detil setiap lekuk tubuhnya. Perawakannya kurus tinggi, kulit wajahnya putih bersih dan ya Tuhan, aku paling menyukai bagian ini, aku menyukai caranya tersenyum. Aku sangat menikmati setiap detik proses itu. Entahlah, hanya perasaan suka sesaat atau lebih. Yang kurasa sekarang, jantungku hampir melonjak keluar ketika sosok itu merekahkan senyum manisnya. Ah, aku tak bisa mengontrol detak jantungku kali ini. Sial.
Love at the first sign.
            Tommy masih sibuk dengan tamu-tamunya ketika aku masih asik dengan duniaku sendiri. Aku benar-benar bisa gila di tempat ini. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan laju darahku, ini menakutkan. Aku bahkan tak ingin mengalihkan sedetikpun pandanganku dari sosok itu. Tiba-tiba ia menatapku. Sejurus kemudian pandangan kami beradu.
            Oh Tuhan, matanya. Sekali lagi aku tak bisa mengontrol detak jantungku. Detak ini tak seperti biasanya, lebih kencang. Membuat aku sesak.
            “Rin, Tommy kesini.” Tiba-tiba suara Lala kembali melemparku ke dunia nyata. Ah, jangan sekarang. Aku masih ingin menikmati mata itu lagi.
            “Sebentar La.”
            “Masih nunggu apa ?”
            Pertanyaan terakhir Lala seakan menyadarkanku. Bukannya dari awal tadi aku tak ingin ke tempat ini ? Bukannya dari awal tadi aku sudah mengatakan pada Lala akan segera pulang setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada Tommy ? Tapi kenapa sekarang aku seperti tak ingin beranjak dari tempat ini ? Ada apa ini ? Apa ini yang di sebut rasa ? Bukankah cinta juga termasuk rasa ? Tapi bukankah sebelumnya aku tak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama ? Entahlah, aku masih ingin disini. Masih ingin melihat senyumnya. Masih ingin menikmati matanya. Pemacu detang jantungku.
            “Kau betah ?” tanya Tommy yang tiba-tiba sudah berada di depanku. Menghalangi pandanganku. Ini menyedihkan.
            “Ya, kurasa. Sedikit.” Jawabku ragu.
            Aku segera menatap Lala, dan benar dugaanku. Dua bola mata Lala sudah hampir melonjak keluar ketika aku selesai mengatakan hal itu.
            “Baiklah, kutinggal lagi. Makanannya ada di meja depan. Have a nice day Rin.”
            Aku bisu, tak bisa mengatakan apapun pada Tommy. Aku tau semakin lama aku disini, ada sosok yang semakin gusar karenanya. Tapi entah apapun itu, aku masih tetap ingin disini. Menikmati pemandangan ini. Aku benar-benar masih ingin disini.
            “Oh ya, ajak juga temanmu bicara. Haha.” Gelak Tommy kemudian.
            “Tom, tunggu.” Aku mengejar sosok Tommy yang sudah melangkahkan kakinya beberapa jengkal di depanku.
            “Selamat ulang tahun ya. Terima kasih sudah di undang kemari.” Kataku setelah Tommy menoleh.
            “Iya.” Jawabnya singkat.
            Aku kembali ke posisiku semula. Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Tommy. Bisakah aku tinggal lebih lama di sini Tom ? Sampai acara ini selesai. Setidaknya sampai pemacu detak jantung itu pergi. Tapi kata-kata itu tak pernah terucap sampai akhirnya kami harus pulang.
            “Dan akhirnya kita menunggu disini sampai acaranya selesai kan.”
            “Haha, maaf lah. Tapi bukankah ini sudah selesai J .”
            “Hah, kau ini. Selalu saja.” Cibir Lala.
            Kalau saja kau tau, sebagian hatiku tertinggal disini La.
            Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Ah, aku sudah 3 jam lebih disini. Sekarang aku dan Lala harus pulang. Mengakhiri semua mimpi yang sudah dengan susah payah kurajut selama 3 jam ini. Tanpa kesan.
            “Tom, aku pulang ya, sekali lagi makasih ya.”
            “Nggak ikut main sama anak-anak dulu Rin,”
            “Ah, nggak usah.” Aku ingin, aku masih ingin melihat senyumnya. Bisakah aku menarik lagi kata-kataku tadi Tom, bisakah aku ikut dengan mereka. Bisakah ?
            “Baiklah, hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada ayah dan ibumu dirumah.”
            “Course.” Jawabku sambil berlalu.
            Berat kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah Tommy, kembali kutolehkan kepalaku kebelakang. Kupandangangi lagi sosok itu, dia masih sama seperti tadi. Dengan senyum indahnya. Masih kupandangi lagi sosok itu sampai akhirnya aku sadar pandangan kami kembali bertemu. Dan entah angin apa yang membawanya berjalan perlahan menuju ke arahku. Ah, benarkah ? Ke arahku ? Apa aku sudah gila ?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar