December Rain
Kabut hitam tebal itu masih
menggulung di atas pemukiman padat penduduk di salah satu sudut kota Wonogiri
pagi itu. Memayungi raga-raga berduka yang tak terlalu memperhatikannya. Bahkan
pagi itu tak secerah pagi-pagi sebelumnya. Gerimis perlahan mulai berbaur
dengan puluhan nyawa di bawahnya. Puluhan bahkan ratusan butir air langit telah
menyatu dengan suara tangis yang kian beradu. Tampak dari rentetan orang-orang
tak tertata sebuah wajah tua tak bertenaga meronta, menagis sejadinya.
"Di
mana cucuku ?"
"Bawa
cucuku kemari,kalian semua pembohong ! Cucuku tak pergi." ratapnya lagi.
Pilu,
miris. Suara paraunya berpadu dengan isak tangis tak tertahan yang tak
sekalipun terdengar syahdu.
Sementara
itu di dalam rumah, terdengar beberapa orang melantunkan ayat-ayat suci yang
terdengar sendu.
"Pak,
baru di berangakatkan." kata seorang pria tiba-tiba menyerbu masuk dalam
rumah.
"Baik,
saya segera bereskan semuanya." sahut sebuah suara yang kemudian
melangkahkan kakinya keluar.
"Pak,
di luar mendung. kasihan anak-anak kalau kehujanan."
"Beritahu
mereka untuk segera berteduh jika hujan." jawabnya lagi
Sementara
itu aku masih membisu di tempatku. Aku tak menyangka semunya akan terjadi. Ini
terlalu mendadak. Mengapa harus setragis ini ?
"Dia
selalu bercanda, tapi sekarang bercandanya terlalu keterlaluan." tiba-tiba
terdengar sebuah suara serak dari sampingku.
Kuarahkan
pandanganku ke wajahnya. Wajahnya tertunduk, tangannya mengepal sekaligus
sedikit bergetar. Matanya memerah, bahkan tampak sebuah lengkung di bawah
kelopak matanya. Kini matanya digenangi sebuah benda bening yang perlahan namun
terus selalu mengalir melalui pelupuk matanya. Sedangkan tangan kanannya
membekap erat mulutnya, seakan tak ingin ia buka. Agar tak seorangpun terusik oleh
isaknya.
"Sudahlah,
semuanya juga tak ingin hal ini terjadi. Ini sudah takdir Wanda, kita bisa apa
?"
"Aku
bahkan tak pernah berfikir akan berpisah dengan dia secepat ini Mel."
tangisnya semakin menjadi kala ini. Sementara itu gerimis yang sempat berhenti
kembali turun.
"Kita
ikhlaskan saja. Tuhan punya rencana lain di baliknya." jawabku seraya
menepuk halus punggungnya.
"Aku
akan sangat merindukannya." Wanda bergumam.
"Kita
semua yang disini juga akan merindukannya. Sangat."
"Sekarangpun
aku sudah merindukan candanya. Dan ternyata rindu itu asin, ia meleleh perlahan
melalui kedua mataku. Perih." kata Wanda dengan tangis tak tertahan.
"Yang
di Atas sudah sangat merindukan Dian tentunya, sehingga secepat ini dia
kembali. Akupun masih tak percaya dia telah terbujur kaku, tapi kita hanya bisa
mengikhlaskan. Bukankah merelakan dan mengikhlaskan adalah bukti bahwa kita
cukup kuat menerima takdir ? Hapus air matamu Wanda, air mata itu tak akan
membawanya kembali, justru itu akan mempergelap jalannya."
"Kita
tak kehilangan sahabat Wanda, dia hanya pergi mendahului kita. Di tempat yang
jauh lebih indah, dia sudah menunggu kita." lanjutku lagi,
Mataku
kembali menerawang jauh ke depan. Menerawag kenyataan perih yang mau tak mau
harus aku dan teman-temanku hadapi. Sesekali ku tengok Wanda. Ia masih
menunduk, sambil sesekali menyeka benda bening yang belum juga berhenti
mengalir dari bola matanya.
Sejurus
kemudian, terdengar suara sirine meraung-raung, mencoba menyibak puluhan orang
yang berlalu lalang menghalangi lajunya. Semua hening ketika mobil itu berhenti
tepat di halaman. Samar-samar ku dengar suara isak tangis di dalamnya. Miris
mendengarnya.
Suara
kehilangan itu terdegar semakin nyata saat pintu di buka. Tampak seorang waita
berhijab tengah bersimpuh memeluk sebuah raga tak bernyawa. Itukah Dian ?
Benarkah dia temanku ? Tuhan, bahkan dari jarak sejauh ini aku bisa melihatnya
dengan gamblang. Tubuhnya terbujur kaku di atas sebuah penandu. Tak bergerak
sedikitpun. Tanpa kusadari, pipiku telah basah. Aku tak berusaha menghapusnya,
tangankupun seakan membeku untuk sekedar menyekanya. Kenapa sekarang aku
selemah ini ? Bukankah tadi aku yang
bergaya sok tegar ketika menenangkan Wanda ? Bukankah tadi aku yang mengajarkan
Wanda tentang arti sebuah keikhlasan ? Sekarang di mana ketegaran itu ? Aku
lupa dimana aku letakkan ketegaran itu saat aku melihat tubuh Dian tergolek
lemah tak berdaya, tak bernyawa.
Kenapa
harus secepat ini dia kembali. Tak beratkah dia meniggalkan semua yang
menangisinya disini ? Semudah itukah dia harus pergi dan tak kembali ? Bahkan
masih terdengar jelas suara vespanya di telingaku. Masih terekam jelas
kekonyolannya saat ia berusaha menghibur teman-temannya. Semuanya masih begitu
jelas di memoriku. Dan sekarang, haruskah aku pura-pura tuli saat puluhan orang
menangisi kepergiannya, haruskah aku pura-pura buta saat puluhan raga mengiring
jenazahnya menuju tempat terakhinya ? Haruskah kulakukan itu semua ?
"Mel,
ayo masuk." tiba-tiba sebuah suara menyeretku anganku kembali dalam dunia
fana.
"Aku
menyusul." jawabku dengan tanpa berusaha mengikuti puluhan langkah yang
mengiring jenazah Dian ke dalam rumah.
Disini
aku tak akan menghapus semuanya. Aku takkah menghapus semua pendegaranku
tentang Dian, aku juga tak akan menghapus semua penglihatanku tenang Dian.
Semuanya akan ku tata rapi. Sebagai hadiah terindah Tuhan yang pernah Ia
berikan pada kami. Ya kami, aku dan semua sahabat Dian. Biarlah semuanya
menjadi kenangan yang bakan terus terpatri dalam jiwa kami, yang akan terus
hidup dalam hati kami.
Kami
Menyayangimu Dian Kuncoro.
Selamat
jalan, semoga damai selalu menyertaimu disana.
Kami
akan sangat merindukan semua tentangmu, semua tentang kita.
Selamat
Jalan Kawan
19
Desember 2012, 08.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar