Selasa, 14 Januari 2014

Desember Rain



December Rain
Kabut hitam tebal itu masih menggulung di atas pemukiman padat penduduk di salah satu sudut kota Wonogiri pagi itu. Memayungi raga-raga berduka yang tak terlalu memperhatikannya. Bahkan pagi itu tak secerah pagi-pagi sebelumnya. Gerimis perlahan mulai berbaur dengan puluhan nyawa di bawahnya. Puluhan bahkan ratusan butir air langit telah menyatu dengan suara tangis yang kian beradu. Tampak dari rentetan orang-orang tak tertata sebuah wajah tua tak bertenaga meronta, menagis sejadinya.
            "Di mana cucuku ?"
            "Bawa cucuku kemari,kalian semua pembohong ! Cucuku tak pergi." ratapnya lagi.
            Pilu, miris. Suara paraunya berpadu dengan isak tangis tak tertahan yang tak sekalipun terdengar syahdu.
            Sementara itu di dalam rumah, terdengar beberapa orang melantunkan ayat-ayat suci yang terdengar sendu.
            "Pak, baru di berangakatkan." kata seorang pria tiba-tiba menyerbu masuk dalam rumah.
            "Baik, saya segera bereskan semuanya." sahut sebuah suara yang kemudian melangkahkan kakinya keluar.
            "Pak, di luar mendung. kasihan anak-anak kalau kehujanan."
            "Beritahu mereka untuk segera berteduh jika hujan." jawabnya lagi
            Sementara itu aku masih membisu di tempatku. Aku tak menyangka semunya akan terjadi. Ini terlalu mendadak. Mengapa harus setragis ini ?
            "Dia selalu bercanda, tapi sekarang bercandanya terlalu keterlaluan." tiba-tiba terdengar sebuah suara serak dari sampingku.
            Kuarahkan pandanganku ke wajahnya. Wajahnya tertunduk, tangannya mengepal sekaligus sedikit bergetar. Matanya memerah, bahkan tampak sebuah lengkung di bawah kelopak matanya. Kini matanya digenangi sebuah benda bening yang perlahan namun terus selalu mengalir melalui pelupuk matanya. Sedangkan tangan kanannya membekap erat mulutnya, seakan tak ingin ia buka. Agar tak seorangpun terusik oleh isaknya.
            "Sudahlah, semuanya juga tak ingin hal ini terjadi. Ini sudah takdir Wanda, kita bisa apa ?"
            "Aku bahkan tak pernah berfikir akan berpisah dengan dia secepat ini Mel." tangisnya semakin menjadi kala ini. Sementara itu gerimis yang sempat berhenti kembali turun.
            "Kita ikhlaskan saja. Tuhan punya rencana lain di baliknya." jawabku seraya menepuk halus punggungnya.
            "Aku akan sangat merindukannya." Wanda bergumam.
            "Kita semua yang disini juga akan merindukannya. Sangat."
            "Sekarangpun aku sudah merindukan candanya. Dan ternyata rindu itu asin, ia meleleh perlahan melalui kedua mataku. Perih." kata Wanda dengan tangis tak tertahan.
            "Yang di Atas sudah sangat merindukan Dian tentunya, sehingga secepat ini dia kembali. Akupun masih tak percaya dia telah terbujur kaku, tapi kita hanya bisa mengikhlaskan. Bukankah merelakan dan mengikhlaskan adalah bukti bahwa kita cukup kuat menerima takdir ? Hapus air matamu Wanda, air mata itu tak akan membawanya kembali, justru itu akan mempergelap jalannya."
            "Kita tak kehilangan sahabat Wanda, dia hanya pergi mendahului kita. Di tempat yang jauh lebih indah, dia sudah menunggu kita." lanjutku lagi,
            Mataku kembali menerawang jauh ke depan. Menerawag kenyataan perih yang mau tak mau harus aku dan teman-temanku hadapi. Sesekali ku tengok Wanda. Ia masih menunduk, sambil sesekali menyeka benda bening yang belum juga berhenti mengalir dari bola matanya.
            Sejurus kemudian, terdengar suara sirine meraung-raung, mencoba menyibak puluhan orang yang berlalu lalang menghalangi lajunya. Semua hening ketika mobil itu berhenti tepat di halaman. Samar-samar ku dengar suara isak tangis di dalamnya. Miris mendengarnya.
            Suara kehilangan itu terdegar semakin nyata saat pintu di buka. Tampak seorang waita berhijab tengah bersimpuh memeluk sebuah raga tak bernyawa. Itukah Dian ? Benarkah dia temanku ? Tuhan, bahkan dari jarak sejauh ini aku bisa melihatnya dengan gamblang. Tubuhnya terbujur kaku di atas sebuah penandu. Tak bergerak sedikitpun. Tanpa kusadari, pipiku telah basah. Aku tak berusaha menghapusnya, tangankupun seakan membeku untuk sekedar menyekanya. Kenapa sekarang aku selemah ini  ? Bukankah tadi aku yang bergaya sok tegar ketika menenangkan Wanda ? Bukankah tadi aku yang mengajarkan Wanda tentang arti sebuah keikhlasan ? Sekarang di mana ketegaran itu ? Aku lupa dimana aku letakkan ketegaran itu saat aku melihat tubuh Dian tergolek lemah tak berdaya, tak bernyawa.
            Kenapa harus secepat ini dia kembali. Tak beratkah dia meniggalkan semua yang menangisinya disini ? Semudah itukah dia harus pergi dan tak kembali ? Bahkan masih terdengar jelas suara vespanya di telingaku. Masih terekam jelas kekonyolannya saat ia berusaha menghibur teman-temannya. Semuanya masih begitu jelas di memoriku. Dan sekarang, haruskah aku pura-pura tuli saat puluhan orang menangisi kepergiannya, haruskah aku pura-pura buta saat puluhan raga mengiring jenazahnya menuju tempat terakhinya ? Haruskah kulakukan itu semua ?
            "Mel, ayo masuk." tiba-tiba sebuah suara menyeretku anganku kembali dalam dunia fana.
            "Aku menyusul." jawabku dengan tanpa berusaha mengikuti puluhan langkah yang mengiring jenazah Dian ke dalam rumah.
            Disini aku tak akan menghapus semuanya. Aku takkah menghapus semua pendegaranku tentang Dian, aku juga tak akan menghapus semua penglihatanku tenang Dian. Semuanya akan ku tata rapi. Sebagai hadiah terindah Tuhan yang pernah Ia berikan pada kami. Ya kami, aku dan semua sahabat Dian. Biarlah semuanya menjadi kenangan yang bakan terus terpatri dalam jiwa kami, yang akan terus hidup dalam hati kami.
            Kami Menyayangimu Dian Kuncoro.
            Selamat jalan, semoga damai selalu menyertaimu disana.
            Kami akan sangat merindukan semua tentangmu, semua tentang kita.
            Selamat Jalan Kawan
           
            19 Desember 2012, 08.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar