Selasa, 14 Januari 2014

Gondola Sang Purnama



Gondola Sang Purnama

02 September 2001
            "Everlasting friend"
            "Sure ?"
            "Absolutely sure."
            "Okelah. I believe :)"
            Begitulah, dua sosok makhluk adam dan hawa itu mengikat janji di atas sebuah gondola yang mengalun tenang terpayungi purnama, awal september lalu.
                                    ***
16 Oktober 2009
            "Abis ini kamu mau ke mana ?"
            "Aku masih belum tau."
            "Hey, tinggal bentar lagi dan kamu belum mikir sampai itu ? Are you sure ?"
            "Aku bingung Ren."
            "Bingung kenapa ? Kamu pintar, kamu bisa milih sekolah manapun yang kamu mau. Orang tua kamu juga mampu, bahkan jauh dari kata mampu, sangat mampu malahan. Mereka bisa beri apapun yang kamu mau kan Din ?"
            "Masalahnya bukan itu Ren ?"
            "So ? What ?"
            "Mama mau aku ke luar kota."
            "Untuk apa ?"
            "Sekalian mau pindah."
            "Apanya ? Siapa yang pindah Din ?"
            "Kami."
            "Kamu ?"
            "Ya. Aku,papa,mama sama mas Anung pindah minggu depan."
            "Tapi kenapa harus pindah."
            "Papa dipindah tugaskan ke Surabaya. Dan aku gak mungkin di tinggal sendiri di sini. Aku harus ikut."
            "Kamu gak bermaksud jauhin aku kan Din ? Apa kamu masih marah sama kejadian kemarin ?"
            "Ren, please aku gak mau bahas masalah gak penting itu lagi. Cuma bakal memperkeruh suasana ! Aku gak suka."
            "Tapi, kita harus.."
            "Cukup Ren, aku gak marah sama kamu karena kejadian kemarin. Aku juga gak ada niat buat jauhin kamu. Pindahnya aku ke Surabaya gak ada hubungannya sama masalah kita. Please, don't make me so dizzy Ren."
            "Maaf Din, aku gak ada maksud buat bikin kamu.."
            Lagi-lagi Dinda memotong kalimat Rendi.
            "Kita teman kan. Kita gak akan berantem kan cuma masalah sepele gini ? You promise to me."
            "Yes, I do."
            Rendi masih tetap membatu di tempat saat Dinda meninggalkannya.
            "Seharusnya, aku tak melakukannya sejak awal." ratap Rendi.
                                    ***
17 April 2009
            "Pulangnya bareng ya."
            "Anything for you my fattest Dinda."
            "Hate you my thinest Rendi. Haha"
            Ini cerita kami. Tentang anak SMA yang baru beranjak dewasa. Tentang anak SMA yang baru tau apa itu cinta. Sebut saja aku Dinda, Ayundya Dinda Pramesti. Dan my lovely thinest friend, Rendi. Rendi Kurnia Prasetyo. Kami berteman sejak kelas 2 SD. Rumah kami memang jauh, tapi itu bukan penghalang persahabatan kamu. Sejak kelas 2 Sekolah Dasar kami selalu satu kelas. Sampai sekarang kelas 3 SMApun kami masih satu kelas.
            Siang ini seperti biasa kami selalu menyediakan waktu kami untuk sekedar mengelilingi kota, berjalan di sepanjang trotoar dan kadang berputar-putar menaiki bus umum mengitari separuh kota Kembang ini. Ah, terlalu indah masa ini. Apapun tak kan dapat membayar semua kenangan antara aku dan Rendi.
            "Ren, kalo udah lulus nanti kamu mau kemana ?" tanyaku tiba-tiba saat kami berhenti di salah satu stan tempat es krim langganan kami.
            "Aku gak akan jauh-jauh dari Bandung Din,"
            "Mungkin gak ya kita satu sekolah lagi ?"
            "Aku gak tau, tapi aku harap iya." Jawab Rendi dengan tak menatapku. Matanya menerawang jauh kedepan. Aku melihatnya lebih dalam. Tatapannya tak kosong, ada sesuatu yang mungkin disembunyikan Rendi dariku. Sesuatu yang tak ku ketahui.
            "Kita gak tau kedepannya Ren."
            "Tapi kita bisa atur, kalau kita mau." Jawabnya tanpa melihatku sekali lagi.
            "You must be close to me." Lanjut Rendi lagi. Kali ini dia mengarahkan pandangannya padaku. Dengan menyunggingkan seulas senyum tentunya. Sebuah senyum yang tak bisa aku artikan apa maknanya. Sulit dibaca namun mudah untuk dirasakan. Ada sebuah harapan yang aku rasakan sekarang. Entah harapan apa itu.
            "Pulang yuk." Ajakku tiba-tiba.
            "Sekarang ?" tanyanya agak terkejut.
            "Menurut kamu ?" jawabku agak jengkel.
            "Gak bisa nanti ya?" rengeknya.
            "Ren, aku lagi gak mau bercanda ya."
            "Oke oke, kita pulang. Sekarang kok haha." jawabnya seraya berdiri dan segera menggandengku pulang. Hangat. Tangannya hangat dan entah mengapa aku merasa nyaman saat jemariku beradu dengan jemarinya.'Jangan lepas, teruslah seperti ini'.
                                    ***
05 Oktober 2009
            "Sejak kapan kamu punya pikirian kayak gini Ren ?" Tanyaku dengan nada meninggi.
            "Sejak dulu."
            "Apa kamu mau semuanya berakhir gini aja ? Tanpa kesan ?"
            "Justru di sini kesannya, apa kamu gak mau ?"
            "Rendi, tolong. Kita udah melangkah sejauh ini. Gak mungkin kan ki.."
           "Din,aku tau kita udah ada dalam posisi sekarang. Tapi dari sini aku benar-benar yakin. Aku kenal kamu lama, kamu juga kan ? Kita udah saling mengenal."
            "Masalahnya bukan segampang itu Ren."
            "Masalahnya apa lagi Din."
            "Masalahnya aku gak bisa."
            "Kenapa gak bisa ? Kamu gak percaya sama aku ? Kamu ragu sama aku ?"
            "Bukan itu. Aku percaya kamu jauh dari aku percaya pada siapapun sejauh ini. Ya, kamu yang terbaik."
            "Lalu apa lagi ?"
            "Kamu memang yang terbaik. Sahabat terbaik aku Ren."
            "Alah, udahlah Din. Sahabat ? Bahkan persahabatan ini juga bakal terus ada kalaupun kamu mau nurutin aku."
            "Nggak Ren. Kamu sekarang bisa ngomong gini. Tapi hasilnya gak akan semulus yang kamu bayangin. Semuanya akan berubah."
            "Semua akan sama. Gak ada yang berubah."
            "Bahkan semuanya akan lebih baik." tambah Rendi.
            "Apa ? Apanya yang lebih baik ? Menurut kamu semuanya akan lebih baik setelah kamu ngomong cinta sama aku ? Semuanya akan lebih baik kalau kita mengikat hubungan ini lebih dari sekedar sahabat gitu ? Nggak Ren, nggak. Semuanya akan jadi buruk. Kita sama aja ngancurin semuanya. Aku gak mau ngrusak persahabatan kita yang udah berjalan bertahun-tahun ini dengan sebuah kisah percintaan konyol yang akhirnya bakal bawa aku dan kamu dalam kebencian."
            "Semuanya omong kosong."
            "Rendi, please. Pikir baik-baik, semuanya akan lebih indah kalau kita saling melengkapi. Bukan saling menghujat seperti ini. Kamu ngerti kan ?"
            "Aku gak ngerti sama kamu. Aku kira selama ini kamu juga ada rasa sama aku. Ternyata aku salah."
            "Ren, kita teman. Kita saling menyayangi. Kamu pernah janji kan sama aku. Sekarang aku tagih janji kamu."
            Kali ini Rendi terdiam. Kepalanya tertunduk, tangannya mengepal dan tubuhnya sedikit bergetar. Aku merasakannya, sekali lagi aku merasakannya. Ada sebuah kekecewaan yang mengumpal hebat dalam diri Rendi, aku mengecewakannya lagi. Aku mengecewakan sahabatku lagi.
           "Kita teman, dan selamanya akan begini." kataku dengan menggengam erat jemarinya. Kali ada yang berbeda. Aku tak merasakan kenyamanan itu lagi. Aku tak merasakan kehangatan itu lagi. Tangannya dingin. Oh Tuhan apa yang aku lakukan pada sahabatku ini. Benarkah tindakanku ?
            Perlahan aku mulai melepaskan genggaman itu, aku melangkah mundur beberapa jengkal sebelum akhirnya aku berbalik dan berlari menjauh dari Rendi.
            Menangis, haruskah aku melakukannya sekarang ?
            Ku amati gondola yang mengalun indah di tepi sungai petang itu. Tampak gundah, selalu goyah . Mengalun resah tanpa arah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar