Gondola Sang Purnama
02
September 2001
"Everlasting
friend"
"Sure
?"
"Absolutely
sure."
"Okelah.
I believe :)"
Begitulah,
dua sosok makhluk adam dan hawa itu mengikat janji di atas sebuah gondola yang
mengalun tenang terpayungi purnama, awal september lalu.
***
16
Oktober 2009
"Abis
ini kamu mau ke mana ?"
"Aku
masih belum tau."
"Hey,
tinggal bentar lagi dan kamu belum mikir sampai itu ? Are you sure ?"
"Aku
bingung Ren."
"Bingung
kenapa ? Kamu pintar, kamu bisa milih sekolah manapun yang kamu mau. Orang tua
kamu juga mampu, bahkan jauh dari kata mampu, sangat mampu malahan. Mereka bisa
beri apapun yang kamu mau kan Din ?"
"Masalahnya
bukan itu Ren ?"
"So
? What ?"
"Mama
mau aku ke luar kota."
"Untuk
apa ?"
"Sekalian
mau pindah."
"Apanya
? Siapa yang pindah Din ?"
"Kami."
"Kamu
?"
"Ya.
Aku,papa,mama sama mas Anung pindah minggu depan."
"Tapi
kenapa harus pindah."
"Papa
dipindah tugaskan ke Surabaya. Dan aku gak mungkin di tinggal sendiri di sini.
Aku harus ikut."
"Kamu
gak bermaksud jauhin aku kan Din ? Apa kamu masih marah sama kejadian kemarin
?"
"Ren,
please aku gak mau bahas masalah gak penting itu lagi. Cuma bakal memperkeruh
suasana ! Aku gak suka."
"Tapi,
kita harus.."
"Cukup
Ren, aku gak marah sama kamu karena kejadian kemarin. Aku juga gak ada niat
buat jauhin kamu. Pindahnya aku ke Surabaya gak ada hubungannya sama masalah
kita. Please, don't make me so dizzy Ren."
"Maaf
Din, aku gak ada maksud buat bikin kamu.."
Lagi-lagi
Dinda memotong kalimat Rendi.
"Kita
teman kan. Kita gak akan berantem kan cuma masalah sepele gini ? You promise to
me."
"Yes,
I do."
Rendi
masih tetap membatu di tempat saat Dinda meninggalkannya.
"Seharusnya,
aku tak melakukannya sejak awal." ratap Rendi.
***
17
April 2009
"Pulangnya
bareng ya."
"Anything
for you my fattest Dinda."
"Hate
you my thinest Rendi. Haha"
Ini
cerita kami. Tentang anak SMA yang baru beranjak dewasa. Tentang anak SMA yang
baru tau apa itu cinta. Sebut saja aku Dinda, Ayundya Dinda Pramesti. Dan my
lovely thinest friend, Rendi. Rendi Kurnia Prasetyo. Kami berteman sejak kelas
2 SD. Rumah kami memang jauh, tapi itu bukan penghalang persahabatan kamu.
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar kami selalu satu kelas. Sampai sekarang kelas 3
SMApun kami masih satu kelas.
Siang
ini seperti biasa kami selalu menyediakan waktu kami untuk sekedar mengelilingi
kota, berjalan di sepanjang trotoar dan kadang berputar-putar menaiki bus umum
mengitari separuh kota Kembang ini. Ah, terlalu indah masa ini. Apapun tak kan
dapat membayar semua kenangan antara aku dan Rendi.
"Ren,
kalo udah lulus nanti kamu mau kemana ?" tanyaku tiba-tiba saat kami
berhenti di salah satu stan tempat es krim langganan kami.
"Aku
gak akan jauh-jauh dari Bandung Din,"
"Mungkin
gak ya kita satu sekolah lagi ?"
"Aku
gak tau, tapi aku harap iya." Jawab Rendi dengan tak menatapku. Matanya
menerawang jauh kedepan. Aku melihatnya lebih dalam. Tatapannya tak kosong, ada
sesuatu yang mungkin disembunyikan Rendi dariku. Sesuatu yang tak ku ketahui.
"Kita
gak tau kedepannya Ren."
"Tapi
kita bisa atur, kalau kita mau." Jawabnya tanpa melihatku sekali lagi.
"You
must be close to me." Lanjut Rendi lagi. Kali ini dia mengarahkan
pandangannya padaku. Dengan menyunggingkan seulas senyum tentunya. Sebuah
senyum yang tak bisa aku artikan apa maknanya. Sulit dibaca namun mudah untuk
dirasakan. Ada sebuah harapan yang aku rasakan sekarang. Entah harapan apa itu.
"Pulang
yuk." Ajakku tiba-tiba.
"Sekarang
?" tanyanya agak terkejut.
"Menurut
kamu ?" jawabku agak jengkel.
"Gak
bisa nanti ya?" rengeknya.
"Ren,
aku lagi gak mau bercanda ya."
"Oke
oke, kita pulang. Sekarang kok haha." jawabnya seraya berdiri dan segera
menggandengku pulang. Hangat. Tangannya hangat dan entah mengapa aku merasa
nyaman saat jemariku beradu dengan jemarinya.'Jangan lepas, teruslah seperti
ini'.
***
05
Oktober 2009
"Sejak
kapan kamu punya pikirian kayak gini Ren ?" Tanyaku dengan nada meninggi.
"Sejak
dulu."
"Apa
kamu mau semuanya berakhir gini aja ? Tanpa kesan ?"
"Justru
di sini kesannya, apa kamu gak mau ?"
"Rendi,
tolong. Kita udah melangkah sejauh ini. Gak mungkin kan ki.."
"Din,aku
tau kita udah ada dalam posisi sekarang. Tapi dari sini aku benar-benar yakin.
Aku kenal kamu lama, kamu juga kan ? Kita udah saling mengenal."
"Masalahnya
bukan segampang itu Ren."
"Masalahnya
apa lagi Din."
"Masalahnya
aku gak bisa."
"Kenapa
gak bisa ? Kamu gak percaya sama aku ? Kamu ragu sama aku ?"
"Bukan
itu. Aku percaya kamu jauh dari aku percaya pada siapapun sejauh ini. Ya, kamu
yang terbaik."
"Lalu
apa lagi ?"
"Kamu
memang yang terbaik. Sahabat terbaik aku Ren."
"Alah,
udahlah Din. Sahabat ? Bahkan persahabatan ini juga bakal terus ada kalaupun
kamu mau nurutin aku."
"Nggak
Ren. Kamu sekarang bisa ngomong gini. Tapi hasilnya gak akan semulus yang kamu bayangin.
Semuanya akan berubah."
"Semua
akan sama. Gak ada yang berubah."
"Bahkan
semuanya akan lebih baik." tambah Rendi.
"Apa
? Apanya yang lebih baik ? Menurut kamu semuanya akan lebih baik setelah kamu
ngomong cinta sama aku ? Semuanya akan lebih baik kalau kita mengikat hubungan
ini lebih dari sekedar sahabat gitu ? Nggak Ren, nggak. Semuanya akan jadi
buruk. Kita sama aja ngancurin semuanya. Aku gak mau ngrusak persahabatan kita
yang udah berjalan bertahun-tahun ini dengan sebuah kisah percintaan konyol
yang akhirnya bakal bawa aku dan kamu dalam kebencian."
"Semuanya
omong kosong."
"Rendi,
please. Pikir baik-baik, semuanya akan lebih indah kalau kita saling
melengkapi. Bukan saling menghujat seperti ini. Kamu ngerti kan ?"
"Aku
gak ngerti sama kamu. Aku kira selama ini kamu juga ada rasa sama aku. Ternyata
aku salah."
"Ren,
kita teman. Kita saling menyayangi. Kamu pernah janji kan sama aku. Sekarang
aku tagih janji kamu."
Kali
ini Rendi terdiam. Kepalanya tertunduk, tangannya mengepal dan tubuhnya sedikit
bergetar. Aku merasakannya, sekali lagi aku merasakannya. Ada sebuah kekecewaan
yang mengumpal hebat dalam diri Rendi, aku mengecewakannya lagi. Aku
mengecewakan sahabatku lagi.
"Kita
teman, dan selamanya akan begini." kataku dengan menggengam erat
jemarinya. Kali ada yang berbeda. Aku tak merasakan kenyamanan itu lagi. Aku
tak merasakan kehangatan itu lagi. Tangannya dingin. Oh Tuhan apa yang aku
lakukan pada sahabatku ini. Benarkah tindakanku ?
Perlahan
aku mulai melepaskan genggaman itu, aku melangkah mundur beberapa jengkal
sebelum akhirnya aku berbalik dan berlari menjauh dari Rendi.
Menangis,
haruskah aku melakukannya sekarang ?
Ku
amati gondola yang mengalun indah di tepi sungai petang itu. Tampak gundah,
selalu goyah . Mengalun resah tanpa arah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar